Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2015

How I dance with my words



I just love to put my feeling into words
Not to solely make any exaggerate thing
I just love to make it into something ambiguous and unknown

My mom keep saying I'm an introvert and closed person
I guess it so
I guess, until someone ask me why or suddenly I have some initiative to tell about my problem
I wont tell anybody

But when I guess I cant handle it and everything feels bottled up
I will put my feeling into words and dance with them.
Not make it clear, Just something random that can express my feeling. Explicit or implicit. Lol
Dunno why I just love it that why. Feels like making story. lol. jk.
You know.. the insecure feelings when someone hold your secret
No, Its not I do not believe in anybody

You could say its more like a trauma?
I guess I have it since my junior high when someone I think as my best friend "stabbed" my back and "threat" me to tell my secret to people. Tho it just simple little secret about teen girl problem. But still, I have problem when trusting people since then.
And I cant stop thinking may be I give them a "burden" when I tell them. Something like that.

Even if I already put my feelings into words in super ambiguous way, then I m still worried about what people may think about me when they read this. That s second. Yeah, my confidence is a mess. I guess I have kind of inferiority complex. Just see how many essay I made and trashed them down in my draft. Because I don't have any confidence to click publish button and an endless thought if my friends read them. Simple, right? But its hurt and hard for some people

Today I read my friend's post about why people post something ambiguous in exaggerate words and it make me think about my writing style when I post in here. Cmiiw if you read this. I'm too lazy to open that tab again.

Sometimes its not about they have trouble when they put their mind into words and make some readable thing in hi-literature.
But it just simply because of their personality. For me, its more like I enjoy writing like this, love to make a poem, daydreaming of what if this made into lyrics and last the real reason, the insecurity about my self like I told you before. How bout you?

Next time I will post about some random people though in an open discussion I found in random article about mind and personality. Not any big or serious, But it quite give a quite understanding, impression and some point a view that I agree about people with  random mind, personality, insecure people, etc, etc.
Ps: If you want to know why I always write in English tho its in a very poor way. Hmm.. Lets say I'm still studying to improve my English better. So, sorry not sorry then.
bye! pyong!

Selasa, 09 April 2013

Ini Kisahku dengan Dirinya


Hari itu panas terik, awan berarak mengikuti angin yang berhembus. Aku duduk, diam, dan termenung. Tiba-tiba dia datang menghampiri. Duduk, diam dan termenung seperti yang kulakukan. Lama kami diam seribu bahasa. Raut wajahnya menendakan dia paham apa yang ada di benakku. Begitu pula aku, paham apa yang sedang dipikirkannya bila melihatku yang seperti ini. Sebentar-sebentar dia memperhatikan raut wajahku. Sedikit cemas tampaknya.

"Ada apa?" tanyanya basa-basi.
"Tidak ada apa-apa" jawabku asal.
"Kau tahu? Kenapa segalanya menjadi seperti ini?" lanjutku.
"Aku tahu. Dan seharusnya kau tahu apa yang terjadi, bagian mana yang salah, dan bagian mana yang harus kau pahami dan perbaiki" jawabnya panjang. Dan lebar. Seperti biasa. Menyanggah segala pernyataanku dengan nadanya yang khas.
"Hmm" jawabku singkat. Perpaduan antara memikirkan perkataannya dan hapalanku dengan kebiasaannya.
"Perlu kuingatkan lagi? Belum cukupkah selama ini yang berkali-kali kukatakan padamu?" nadanya mulai tinggi, menandakan dia mulai marah. Dalam arti baik tentunya.
"Iya, tapi.." sanggahku.
"Tapi, apa?" potongnya cepat dan tetap dengan nada tinggi.
"Kau juga seharusnya tahu. Kau tahu, itu.. sesuatu yang..hmm.." aku bingung merangkai kata yang tepat untuk menjelaskan padanya, meski percuma. Dia tahu apa yang kupikirkan.
"Hei, aku sudah bersamamu selama lebih dari 17 tahun. Kau pikir aku tak tahu kemana jalan pikiranmu sekarang, hah?" nadanya semakin meninggi. Aku sudah biasa mendengarnya, tapi tetap saja.
"Fokus! Fokus!" lanjutnya setengah berteriak.
Ugh, dia selalu begitu kalau sudah begini.
"Iya, iya, aku tahu apa yang harus kulakukan" balasku pendek.
"Hmm, baiklah. Pasti bisa!" jawabku optimis. Setelah berpikir pendek dan mengumpulkan semangat, meski sebenarnya masih ada keraguan di dalamnya.
"Nah, begitu dong! ujarnya tersenyum.
"Kalau memang tidak bisa, katakan padaku. Aku akan membantumu, menggantikan" lanjutnya lagi, kini dengan nada riang dan senyumnya yang seperti anak kecil.
"Baiklah" ujarku ringan.
Obrolan kami pun kemudian berlanjut pada obrolan-obrolan ringan, seperti kenapa roda itu bulat, harumnya 'hujan pertama' dan perdebatan tidak penting lainnya.

Semua orang bilang, kami berdua aneh. Tapi kami tidak peduli apa yang orang lain katakan. Toh, kami sudah saling mengenal dan bersama sejak lama.

"Mungkin, sudah saatnya kita berpisah" ujarnya mengingatkan, menyadarkanku dari lamunan.
Ah, benar. Sudah waktunya rupanya. Aku mengikat dan merapikan kembali rambutku yang semula berantakan. Dia pun demikian.
"Baiklah, sampai jumpa" ujarku lembut sambil menyentuh tangannya.
Tapi tangan kami tidak sampai bersentuhan.
"Ah cermin ini" ujarnya kesal. Tinjunya melayang lembut ke arah cermin di depan kami. Aku menatap cermin itu. Di sanalah ia berada, dalam pantulan cermin, pantulan yang serupa denganku. Ah iya, itu aku.

"Hahaha, sudahlah" tawanya renyah.
"Tidurlah" timpalku ringan.

Kami pun sama-sama berbalik, memalingkan badan masing-masing. Aku dengan hidupku, sedang ia dengan tidurnya. Lagi. Hingga saat kami akan bertemu seperti saat ini lagi, atau ketika ia datang dan menggantikanku. Lagi.

ps : akhirnya tertulis juga :) *memandang langit malam*



Kamis, 27 Desember 2012

Cerita pada hari itu.

Besok. Ternyata setahun telah berlalu. Walau sejujurnya tidak ingin mengingatnya, tapi mau tidak mau pasti ingat. Bahkan hingga detail kecil di dalamnya. Ini adalah kisah pada hari itu, ditulis karna ingin dilupakan dan sekedar berbagi kisah. Karna hingga saat ini, kisah ini masih sangat membekas di pikiran. Setidaknya, dengan ditulisnya kisah ini, bisa sedikit meringankan pikiranku.

Pagi itu, 28 Desember, hari berjalan seperti biasa, mama menyiapkan sarapan dan aku membantu membersihkan lantai. Papa sedang menelpon teman kantornya untuk izin tidak masuk karena masuk angin. aku pun kembali ke dapur. Samar, papa memanggil namaku panggilanku lengkap-biasanya hanya dipanggil 'De' atau nama panggilan di rumah-. Papa masuk angin katanya. Mama kemudian memanggil saudara jauh yang kami pikir mungkin bisa membantu. Dia datang bersama temannya yang katanya jago memijat. Dan papa pun langsung dipijat olehnya, dan sangat merah. kami semua berpikir bahwa papa hanya masuk angin dan kecapekan. kemudian sang saudara menganjurkan untuk meminum air kelapa, mengingat khasiatnya yang bisa menetralkan racun. Namun mama menolaknya karena khawatir papa akan semakin lemas karena efek sampingnya adalah lemas.
Waktu berlalu, papa sedikit membaik setelah makan siang dengan mie instan. Jam 1 siang, papa mengeluh kesakitan. Sang saudara kembali dipanggil untuk sekedar menemani kami. Awalnya, mama mau memanggil dokter tetangga, namun beliau sedang tidak ada. Ucapan papa semakin kacau, wajahnya semakin memerah. Kaka pun segera mencari taksi untuk membawa kami ke rumah sakit-kebetulan mobil sedang dipakai untuk urusan kantor, dan tidak bisa digunakan siang itu-. Lama kami menunggu di ruang tamu. Setengah jam berlalu, kaka pulang tanpa hasil. Kemudian segera pergi kembali untuk mencarinya di tempat berbeda. Alhamdulillah taksi datang selang setengah jam kemudian. Aku, mama, papa, dan sang saudara segera berangkat ke rumah sakit tempat papa biasa check up rutin kesehatannya. Dokternya sudah paham tentang papa, alasannya. Tas berisi pakaian juga sudah dibawa, berjaga-jaga bila harus rawat inap. Taksi berangkat, sedang kaka menyusul kemudian.
Sepanjang perjalanan tidak ada suara, hanya suara tasbih yang berputar yang papa pegang saat itu. Supir taksi yang tampaknya juga paham dengan situasi pun melaju cukup cepat tidak lupa sambil mengingatkan barang bawaan agar tidak ketinggalan pada kami. Seingatku, beliau juga merelakan kembalian receh yang harusnya diberikan, karena situasi kami.
Di depan pintu UGD, papa dipapah dan didudukkan di kursi dorong, segera dibawa ke masuk UGD. Alhamdulillah, dokter langganan papa masih ada di rumah sakit tersebut. Beliau segera berlari menuju UGD. Lama. Setengah jam kalau tidak salah ingat, keluarga pun dipanggil. Papa terlihat membaik dengan tabung oksigen di sebelahnya. Penyumbatan pembuluh darah katanya. Harus disuntik obat, tapi tidak hanya itu, harus dilakukan tindakan lanjutan lain kata mereka, dokter angkat tangan dan harus dirujuk di rumah sakit jantung Jakarta karena ketiadaan alat di rumah sakit itu. Dan kami pun segera mengurus segala administrasi pemindahan, pembayaran, dan lainnya. Meski telah selesai, papa masih belum juga diberangkatkan. Sudah dua jam lebih. Tekanan darah papa menurun katanya. Ada obat yang harus diberikan saat itu untuk menaikkan tekanan darah dan menunggu tekanan darah papa stabil. Sedang ambulance sudah stand by sedari tadi.
Sekitar pukul setengah 6 lewat, papa dimasukkan ke dalam ambulance, dan hanya boleh dua orang anggota keluarga yang ikut, aku dan mama kemudian memutuskan untuk ikut. Sedang kaka, saudara, dan mobil akan menyusul. Bersama dengan seorang dokter UGD dan seorang asistennya-kalau tidak salah-, terus memantau papa lewat segala rupa alat-alat yang dipasang. Sedang aku dan mama duduk diam di depan sambil terus mendengarkan alat rekam jantung berbunyi. Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara, mengangis atau apapun. Meski sangat ingin aku menangis tapi aku tidak bisa melakukannya. Tenang, pikirku. Kalau saat itu aku menangis, mama pasti ikutan menangis dan panik. Papa juga pasti ikutan panik. Kualihkan pikiranku pada jalanan yang saat itu macet, pada jam pulang kerja. Dengan sirinenya, ambulance melaju di kiri jalan, meminta jalan pada pengendara kendaraan lain, meski ada beberapa kendaraan yang dengan sangat kejamnya tidak juga memberikan jalan pada kami, kami akhirnya berhasil sampai ke rumah sakit jantung yang dituju.
Papa pun langsung dimasukkan lagi ke ruang UGD. Setelah beberapa saat, dokter-dokter yang memeriksa papa bilang, kalau papa mengalami serangan jantung. Pagi, yang pertama, siang yang kedua, lebih sesak katanya dan bila sampai tiga kali, maka... .Administrasi pun harus segera diurus untuk tindakan operasi yang akan dilakukan,, meski biaya masih bisa ditangguhkan sampai besok, mengingat kami menggunakan asuransi kantor dan waktu juga sudah malam. Mama bilang, untung aku ada di rumah, bila tidak mama pasti panik, dan bingung mengurus segalanya. Kemudian, kami diminta menunggu sebentar untuk persiapan operasinya.
Sekitar pukul 19.00, om datang bersama sepupu. Om yang juga sudah pernah mengalami operasi pasang cincin-bahkan empat sekaligus, diluar negeri tapi- mengatakan segalanya pasti baik-baik saja dan mengajak makan terlebih dahulu, mengingat kami belum makan apapun lagi sedari tadi. Berempat, kami makan di kantin depan ruang UGD. Saat sedang makan supir mobil kantor datang dan bilang kalau operasinya akan segera dilaksanakan. Buru-buru kami meninggalkan makanan, meski baru setengah yang dimakan. Lantai 2, lokasinya. Sedikit terlambat, papa sudah masuk ruang operasi dengan diantar kaka, hanya tinggal menunggu dokter bersiap katanya, dan kami pun diminta menunggu di ruang tunggu operasi. Satu jam-estimasi operasi- yang artinya operasi akan berakhir sekitar pukul sembilan malam.
Layaknya ruang tunggu kebanyakan, ada banyak kursi, yang juga dipenuhi orang-orang yang sedang menunggu operasi sanak saudara mereka berakhir. Kami mengobrol sambil membunuh waktu. Untungnya om dan sepupu datang, mama bilang mungkin kalau om tidak datang untuk mencairkan pikiran mama, mama pasti panik, bingung dan tegang. Satu per satu keluarga pasien yang sudah selesai dioperasi dipanggil. Lama, satu jam katanya, sekitar jam 10 kurang akhirnya kami dipanggil. Alhamdulillah. Operasi berjalan lancar, Papa pun dibawa ke ruang perawatan khusus pasien dengan kondisi cukup berat. ruangan itu muat untuk 6 kasur pasien, dengan dipenuhi berbagai peralatan pemantau pasien, dengan sebuah meja di tengah serta 4 orang perawat yang selalu mengecek keadaan pasien. Tanpa tv, karena memang pasien harus benar-benar bedrest disitu.
Papa kemudian menyuruh aku dan mama untuk segera pulang karna hari sudah malam, sedang kaka tetap di rumah sakit. Menunggu di ruang tunggu pasien, barangkali ada tindakan atau kebutuhan lain papa. Karena ruangan perawatannya intensif, tidak boleh ada penunggu pasien yang menunggu di situ. Ruang tunggu pasien rawat inap, sama halnya dengan ruang tunggu pasien operasi. Ada banyak bangku-bangku berbahan stainless dideret rapi. Bedanya, perlengkapan 'perang' para penunggu sudah lebih canggih. Mulai dari membawa selimut yang dijadikan karpet duduk di lantai, kasur, radio, laptop, hingga roll kabel untuk men-charge puluhan gadget para penunggu. Kondisi yang hampir menyaingi bumi perkemahan-indoor tapi-. Sekitar jam 11-an, kami pun tiba di rumah.
Meski sebenarnya ceritanya tidak berhenti sampai disitu, karena kemudian papa harus menjalani dua kali operasi lanjutan di bulan-bulan berikutnya. Namun tampaknya suatu saat nanti akan kutulis bila sempat.  Semoga papa dan mama dipanjangkan umurnya, dan diangkat segala penyakitnya. Amin.

Note: cerita sinteron bohong lho. kalo di film-film kan waktu orangnya sakit, yang ada di sebelahnya waktu di ambulance itu 'tokoh penting' film which is bukan tenaga medis. kenyataannya, kita disuruh duduk di depan tuh. yagilajugakali,tenaga medisnya ga mantengin pasiennya.
catatan lainya, ternyata orang dengan penyakit jantung tidak boleh dikerokin, karena dikhawatirkan akan kena ke pembuluh darah.

Kamis, 01 November 2012

Suatu hari antara kau dan aku. Maka hanya aku yang paham


Aku membeku. Diam. Tak bergerak. Kurasakan badanku kaku dan bergerak pelan dengan kikuk. Aku tak bisa bernafas. Nafasku mendadak dalam dan berat. Bahkan tampaknya aku lupa bagaimana bernapas. Kurasakan mukaku memanas. Aku tak tau harus memandang kemana. Kacau. Tak pernah kubayangkan kau disana. Duduk tepat di sebelahku. Aku terlalu terbiasa berusaha-kalau kau mau mengatakan-untuk duduk sedekat mungkin denganmu. Tapi tidak untuk jarak sedekat ini. 5 cm! Ya, jarak antara siku yang kutumpukan dimeja hanya 5 cm dengan sikumu. Aku kacau. Berusaha meracau di atas kertasku. Berusaha sebisa mungkin tidak berpandangan. Sedang kau duduk diam di tempatmu. Aku panik. Mencari-cari alasan atas kebodohan, kekakuan, dan kepanikan di mukaku. Aku diam. Dan beku. Sedang kau duduk diam menunduk dalam duniamu. Sedang aku panik atas situasi bodoh yang kubuat atas imajinasiku. Hingga akhirnya kita bertemu. Aku merasa bersalah. Bersalah atas sikapku. Bersalah atas keegoisanku. Bersalah atas rasa ini. Bila memang bisa kuhapuskan. Aku ingin menghapusnya. Jika memang segalanya menjadi kacau.


Sebuah tulisan yang saya temukan dalam draft salah satu blog saya yang belum sempat dipublish. Entah kapan tulisan ini dibuat saya lupa kapan tepatnya. Tampaknya setahun atau dua tahun lalu.

Rabu, 31 Oktober 2012

Bulan yang Tak Lagi Merindu


Bulan kini tak lagi bercahaya
Tertutup tebalnya awan
Kala gelak tawa memecah sunyi
Temaram lilin menggantikan dirinya
Adakah dirinya di sana?
Bersembunyi dalam pekatnya langit
Tanpa ada yang memperhatikan
Diam. Dan tenang
Tak ada yang salah
Selain hitamnya langit yang menutupi dirinya
Tak ada yang benar
Selain keberadaan dirinya yang terabaikan
Tak ada lagi yang merindumu
Mereka telah pergi dan meninggalkanmu
(Agustus 2012)