Aku membeku. Diam. Tak bergerak. Kurasakan badanku kaku dan bergerak pelan dengan kikuk. Aku tak bisa bernafas. Nafasku mendadak dalam dan berat. Bahkan tampaknya aku lupa bagaimana bernapas. Kurasakan mukaku memanas. Aku tak tau harus memandang kemana. Kacau. Tak pernah kubayangkan kau disana. Duduk tepat di sebelahku. Aku terlalu terbiasa berusaha-kalau kau mau mengatakan-untuk duduk sedekat mungkin denganmu. Tapi tidak untuk jarak sedekat ini. 5 cm! Ya, jarak antara siku yang kutumpukan dimeja hanya 5 cm dengan sikumu. Aku kacau. Berusaha meracau di atas kertasku. Berusaha sebisa mungkin tidak berpandangan. Sedang kau duduk diam di tempatmu. Aku panik. Mencari-cari alasan atas kebodohan, kekakuan, dan kepanikan di mukaku. Aku diam. Dan beku. Sedang kau duduk diam menunduk dalam duniamu. Sedang aku panik atas situasi bodoh yang kubuat atas imajinasiku. Hingga akhirnya kita bertemu. Aku merasa bersalah. Bersalah atas sikapku. Bersalah atas keegoisanku. Bersalah atas rasa ini. Bila memang bisa kuhapuskan. Aku ingin menghapusnya. Jika memang segalanya menjadi kacau.
Sebuah tulisan yang saya temukan dalam draft salah satu blog saya yang belum sempat dipublish. Entah kapan tulisan ini dibuat saya lupa kapan tepatnya. Tampaknya setahun atau dua tahun lalu.
Sebuah tulisan yang saya temukan dalam draft salah satu blog saya yang belum sempat dipublish. Entah kapan tulisan ini dibuat saya lupa kapan tepatnya. Tampaknya setahun atau dua tahun lalu.