Besok. Ternyata setahun telah berlalu. Walau sejujurnya tidak ingin mengingatnya, tapi mau tidak mau pasti ingat. Bahkan hingga detail kecil di dalamnya. Ini adalah kisah pada hari itu, ditulis karna ingin dilupakan dan sekedar berbagi kisah. Karna hingga saat ini, kisah ini masih sangat membekas di pikiran. Setidaknya, dengan ditulisnya kisah ini, bisa sedikit meringankan pikiranku.
Pagi itu, 28 Desember, hari berjalan seperti biasa, mama menyiapkan sarapan dan aku membantu membersihkan lantai. Papa sedang menelpon teman kantornya untuk izin tidak masuk karena masuk angin. aku pun kembali ke dapur. Samar, papa memanggil namaku panggilanku lengkap
-biasanya hanya dipanggil 'De' atau nama panggilan di rumah-. Papa masuk angin katanya. Mama kemudian memanggil saudara jauh yang kami pikir mungkin bisa membantu. Dia datang bersama temannya yang katanya jago memijat. Dan papa pun langsung dipijat olehnya, dan sangat merah. kami semua berpikir bahwa papa hanya masuk angin dan kecapekan. kemudian sang saudara menganjurkan untuk meminum air kelapa, mengingat khasiatnya yang bisa menetralkan racun. Namun mama menolaknya karena khawatir papa akan semakin lemas karena efek sampingnya adalah lemas.
Waktu berlalu, papa sedikit membaik setelah makan siang dengan mie instan. Jam 1 siang, papa mengeluh kesakitan. Sang saudara kembali dipanggil untuk sekedar menemani kami. Awalnya, mama mau memanggil dokter tetangga, namun beliau sedang tidak ada. Ucapan papa semakin kacau, wajahnya semakin memerah. Kaka pun segera mencari taksi untuk membawa kami ke rumah sakit-kebetulan mobil sedang dipakai untuk urusan kantor, dan tidak bisa digunakan siang itu-. Lama kami menunggu di ruang tamu. Setengah jam berlalu, kaka pulang tanpa hasil. Kemudian segera pergi kembali untuk mencarinya di tempat berbeda. Alhamdulillah taksi datang selang setengah jam kemudian. Aku, mama, papa, dan sang saudara segera berangkat ke rumah sakit tempat papa biasa check up rutin kesehatannya. Dokternya sudah paham tentang papa, alasannya. Tas berisi pakaian juga sudah dibawa, berjaga-jaga bila harus rawat inap. Taksi berangkat, sedang kaka menyusul kemudian.
Sepanjang perjalanan tidak ada suara, hanya suara tasbih yang berputar yang papa pegang saat itu. Supir taksi yang tampaknya juga paham dengan situasi pun melaju cukup cepat tidak lupa sambil mengingatkan barang bawaan agar tidak ketinggalan pada kami. Seingatku, beliau juga merelakan kembalian receh yang harusnya diberikan, karena situasi kami.
Di depan pintu UGD, papa dipapah dan didudukkan di kursi dorong, segera dibawa ke masuk UGD. Alhamdulillah, dokter langganan papa masih ada di rumah sakit tersebut. Beliau segera berlari menuju UGD. Lama. Setengah jam kalau tidak salah ingat, keluarga pun dipanggil. Papa terlihat membaik dengan tabung oksigen di sebelahnya. Penyumbatan pembuluh darah katanya. Harus disuntik obat, tapi tidak hanya itu, harus dilakukan tindakan lanjutan lain kata mereka, dokter angkat tangan dan harus dirujuk di rumah sakit jantung Jakarta karena ketiadaan alat di rumah sakit itu. Dan kami pun segera mengurus segala administrasi pemindahan, pembayaran, dan lainnya. Meski telah selesai, papa masih belum juga diberangkatkan. Sudah dua jam lebih. Tekanan darah papa menurun katanya. Ada obat yang harus diberikan saat itu untuk menaikkan tekanan darah dan menunggu tekanan darah papa stabil. Sedang
ambulance sudah
stand by sedari tadi.
Sekitar pukul setengah 6 lewat, papa dimasukkan ke dalam ambulance, dan hanya boleh dua orang anggota keluarga yang ikut, aku dan mama kemudian memutuskan untuk ikut. Sedang kaka, saudara, dan mobil akan menyusul. Bersama dengan seorang dokter UGD dan seorang asistennya
-kalau tidak salah-, terus memantau papa lewat segala rupa alat-alat yang dipasang. Sedang aku dan mama duduk diam di depan sambil terus mendengarkan alat rekam jantung berbunyi. Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara, mengangis atau apapun. Meski sangat ingin aku menangis tapi aku tidak bisa melakukannya. Tenang, pikirku. Kalau saat itu aku menangis, mama pasti ikutan menangis dan panik. Papa juga pasti ikutan panik. Kualihkan pikiranku pada jalanan yang saat itu macet, pada jam pulang kerja. Dengan sirinenya,
ambulance melaju di kiri jalan, meminta jalan pada pengendara kendaraan lain, meski ada beberapa kendaraan yang dengan sangat kejamnya tidak juga memberikan jalan pada kami, kami akhirnya berhasil sampai ke rumah sakit jantung yang dituju.
Papa pun langsung dimasukkan lagi ke ruang UGD. Setelah beberapa saat, dokter-dokter yang memeriksa papa bilang, kalau papa mengalami serangan jantung. Pagi, yang pertama, siang yang kedua, lebih sesak katanya dan bila sampai tiga kali, maka... .Administrasi pun harus segera diurus untuk tindakan operasi yang akan dilakukan,, meski biaya masih bisa ditangguhkan sampai besok, mengingat kami menggunakan asuransi kantor dan waktu juga sudah malam. Mama bilang, untung aku ada di rumah, bila tidak mama pasti panik, dan bingung mengurus segalanya. Kemudian, kami diminta menunggu sebentar untuk persiapan operasinya.
Sekitar pukul 19.00, om datang bersama sepupu. Om yang juga sudah pernah mengalami operasi pasang cincin-bahkan empat sekaligus, diluar negeri tapi- mengatakan segalanya pasti baik-baik saja dan mengajak makan terlebih dahulu, mengingat kami belum makan apapun lagi sedari tadi. Berempat, kami makan di kantin depan ruang UGD. Saat sedang makan supir mobil kantor datang dan bilang kalau operasinya akan segera dilaksanakan. Buru-buru kami meninggalkan makanan, meski baru setengah yang dimakan. Lantai 2, lokasinya. Sedikit terlambat, papa sudah masuk ruang operasi dengan diantar kaka, hanya tinggal menunggu dokter bersiap katanya, dan kami pun diminta menunggu di ruang tunggu operasi. Satu jam-estimasi operasi- yang artinya operasi akan berakhir sekitar pukul sembilan malam.
Layaknya ruang tunggu kebanyakan, ada banyak kursi, yang juga dipenuhi orang-orang yang sedang menunggu operasi sanak saudara mereka berakhir. Kami mengobrol sambil membunuh waktu. Untungnya om dan sepupu datang, mama bilang mungkin kalau om tidak datang untuk mencairkan pikiran mama, mama pasti panik, bingung dan tegang. Satu per satu keluarga pasien yang sudah selesai dioperasi dipanggil. Lama, satu jam katanya, sekitar jam 10 kurang akhirnya kami dipanggil. Alhamdulillah. Operasi berjalan lancar, Papa pun dibawa ke ruang perawatan khusus pasien dengan kondisi cukup berat. ruangan itu muat untuk 6 kasur pasien, dengan dipenuhi berbagai peralatan pemantau pasien, dengan sebuah meja di tengah serta 4 orang perawat yang selalu mengecek keadaan pasien. Tanpa tv, karena memang pasien harus benar-benar
bedrest disitu.
Papa kemudian menyuruh aku dan mama untuk segera pulang karna hari sudah malam, sedang kaka tetap di rumah sakit. Menunggu di ruang tunggu pasien, barangkali ada tindakan atau kebutuhan lain papa. Karena ruangan perawatannya intensif, tidak boleh ada penunggu pasien yang menunggu di situ. Ruang tunggu pasien rawat inap, sama halnya dengan ruang tunggu pasien operasi. Ada banyak bangku-bangku berbahan
stainless dideret rapi. Bedanya, perlengkapan 'perang' para penunggu sudah lebih canggih. Mulai dari membawa selimut yang dijadikan karpet duduk di lantai, kasur, radio, laptop, hingga roll kabel untuk men-
charge puluhan
gadget para penunggu. Kondisi yang hampir menyaingi bumi perkemahan
-indoor tapi-. Sekitar jam 11-an, kami pun tiba di rumah.
Meski sebenarnya ceritanya tidak berhenti sampai disitu, karena kemudian papa harus menjalani dua kali operasi lanjutan di bulan-bulan berikutnya. Namun tampaknya suatu saat nanti akan kutulis
bila sempat. Semoga papa dan mama dipanjangkan umurnya, dan diangkat segala penyakitnya. Amin.
Note: cerita sinteron bohong lho. kalo di film-film kan waktu orangnya sakit, yang ada di sebelahnya waktu di
ambulance itu 'tokoh penting' film
which is bukan tenaga medis. kenyataannya, kita disuruh duduk di depan tuh.
yagilajugakali,tenaga medisnya ga mantengin pasiennya.
catatan lainya, ternyata orang dengan penyakit jantung tidak boleh dikerokin, karena dikhawatirkan akan kena ke pembuluh darah.