"there isn't any guarantee in this life. nobody know what will happen in the future" -myself
Hai Bandung,
Sebuah kota yang dulu tidak pernah sedikit pun terlintas di kepala akan kutinggali. Kota ku merantau dan menuntut ilmu. Susah senang kulalui disini. kota yang membuatku sadar dan tahu bahwa 'sahabat itu ada', 'sahabat itu keluarga'. Terima kasih telah menemaniku selama 4,5 tahun ini. Tak pernah kusangka pula aku akan meninggalkanmu secepat ini.
Masih sangat jelas dalam ingatanku, ketika tes masuk kuliah, yang bahkan waktu itu aku tidak tahu yang mana kampusku. hahaha sedih sih. Tahun pertama kuliah, homesick. Saat orang tua pulang dari kostan, aku langsung terduduk lemas. Bingung. Apa yang harus kulakukan, apa yang biasa kulakukan di rumah, berusaha menciptakan suasana seperti di rumah, tapi gagal dan berujung pada seringnya aku jatuh sakit, selain juga karena faktor depresi dan stres kala itu.
Tahun kedua, ketiga, dan keempat berlalu. Dan kini, semuanya telah terjadi dan telah berlalu.
Saya dan seorang teman pernah ngobrol panjang lebar tentang masalah ini,
"gw ga bisa move on". "km ga sendiri, aku yang udah lepas dari sana aja masih ga bisa move on". kalimat-kalimat yang diucapkanya ketika itu, dan aku hanya bilang, 'iya, sama'.
Dan kini, semuanya terjadi. Lewat sms, dia bilang,
"I know that feeling. if I can, I will live there forever"
And she keep asked my feeling lately. yeah, it still hurt for me. And living there forever means sacrifice everything. And I can't be a spoiled child anymore. Even if I want, but I can't and I know the risk. I will regret everything. I don't want to regret anything. But still, I can take everything. Each person have their own portion and their own burden. I know that well too. But still, it hurts and I really know I shouldn't be greedy but still...
"Bandung is a bitch pit. it's very hard to move on from it" she said..
and again, i must moving on
i haven't say any proper words for my moving. Even saying good bye, sorry, thank you. i didn't have a chance to say it properly. Even if I want to say it right now, it still hurt. It's better to wait for a while, settling my feeling and say it properly.
I love you and sorry. My only word i can say right now.
Rabu, 30 Januari 2013
Rabu, 23 Januari 2013
in the middle of learning to make a web. it's really difficult. diperparah dengan lupa sama email dan password yg baru kemarin dibikin buat webnya. juara. oTL
current mood : confuse
current song : baby baby baby-jkt48
ps : congrats jkt48 untuk untuk penghargaan pendatang baru terbaik dahsyat award
Minggu, 30 Desember 2012
Segalanya Butuh Perjuangan
Akhirnya kesampaian juga keinginan gw buat baca novel "Aku terlahir 500gr dan buta", setelah beberapa tahun 'gatel' ingin beli, dan hanya bisa memandanginya dari kejauhan etalase toko.
mari menabung untuk memberli kelanjutannya >___<
Daaaaan... ceritanya baguus. Berdasarkan kisah nyata tentang kehidupan Miyuki Inoue dengan segala keterbatasannya serta perjuangan ibunya yang membesarkannya seorang diri. Perasaan keduanya dituang dengan sangat apik. Pertengkaran demi pertengkaran keduanya, pemberontakan Miyuki-chan yang beranjak dewasa, perjuangan dan frustasi sang ibu. Kisah mereka disajikan dengan ringan namun tetap menyentuh hati pembaca. Namun, seperti karya bahasa Jepang yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, beberapa susunan kata terangkai indah ala sastra Jepang. Bagi yang cukup sering membaca atau mendengar lirik-lirik lagu, atau film-film berbahasa Jepang yang diartikan ke dalam bahasa lain, mungkin cukup akrab dengan penggunaan bahasanya. Overall, novel ini highly recomended. Terutama bagi mereka yang mungkin sedang berantem dengan ibunya. Intinya sih, semua orang punya permasalahan masing-masing, tergantung bagaimana menghadapinya, dan segalanya butuh perjuangan.
Selain novel 'Aku terlahir 500gr dan buta' yang ditulisnya ketika berusia 15 tahun, Miyuki-chan melanjutkan menuliskan kisahnya lagi dalam '17 Tahun Usiaku'.
Demikian pula dengan sang ibu, yang juga berkisah tentang dirinya dan Miyuki-chan dalam 'Hiduplah Anakku, Ibu Mendampingimu'.
Kamis, 27 Desember 2012
Cerita pada hari itu.
Besok. Ternyata setahun telah berlalu. Walau sejujurnya tidak ingin mengingatnya, tapi mau tidak mau pasti ingat. Bahkan hingga detail kecil di dalamnya. Ini adalah kisah pada hari itu, ditulis karna ingin dilupakan dan sekedar berbagi kisah. Karna hingga saat ini, kisah ini masih sangat membekas di pikiran. Setidaknya, dengan ditulisnya kisah ini, bisa sedikit meringankan pikiranku.
Pagi itu, 28 Desember, hari berjalan seperti biasa, mama menyiapkan sarapan dan aku membantu membersihkan lantai. Papa sedang menelpon teman kantornya untuk izin tidak masuk karena masuk angin. aku pun kembali ke dapur. Samar, papa memanggil namaku panggilanku lengkap-biasanya hanya dipanggil 'De' atau nama panggilan di rumah-. Papa masuk angin katanya. Mama kemudian memanggil saudara jauh yang kami pikir mungkin bisa membantu. Dia datang bersama temannya yang katanya jago memijat. Dan papa pun langsung dipijat olehnya, dan sangat merah. kami semua berpikir bahwa papa hanya masuk angin dan kecapekan. kemudian sang saudara menganjurkan untuk meminum air kelapa, mengingat khasiatnya yang bisa menetralkan racun. Namun mama menolaknya karena khawatir papa akan semakin lemas karena efek sampingnya adalah lemas.
Waktu berlalu, papa sedikit membaik setelah makan siang dengan mie instan. Jam 1 siang, papa mengeluh kesakitan. Sang saudara kembali dipanggil untuk sekedar menemani kami. Awalnya, mama mau memanggil dokter tetangga, namun beliau sedang tidak ada. Ucapan papa semakin kacau, wajahnya semakin memerah. Kaka pun segera mencari taksi untuk membawa kami ke rumah sakit-kebetulan mobil sedang dipakai untuk urusan kantor, dan tidak bisa digunakan siang itu-. Lama kami menunggu di ruang tamu. Setengah jam berlalu, kaka pulang tanpa hasil. Kemudian segera pergi kembali untuk mencarinya di tempat berbeda. Alhamdulillah taksi datang selang setengah jam kemudian. Aku, mama, papa, dan sang saudara segera berangkat ke rumah sakit tempat papa biasa check up rutin kesehatannya. Dokternya sudah paham tentang papa, alasannya. Tas berisi pakaian juga sudah dibawa, berjaga-jaga bila harus rawat inap. Taksi berangkat, sedang kaka menyusul kemudian.
Sepanjang perjalanan tidak ada suara, hanya suara tasbih yang berputar yang papa pegang saat itu. Supir taksi yang tampaknya juga paham dengan situasi pun melaju cukup cepat tidak lupa sambil mengingatkan barang bawaan agar tidak ketinggalan pada kami. Seingatku, beliau juga merelakan kembalian receh yang harusnya diberikan, karena situasi kami.
Di depan pintu UGD, papa dipapah dan didudukkan di kursi dorong, segera dibawa ke masuk UGD. Alhamdulillah, dokter langganan papa masih ada di rumah sakit tersebut. Beliau segera berlari menuju UGD. Lama. Setengah jam kalau tidak salah ingat, keluarga pun dipanggil. Papa terlihat membaik dengan tabung oksigen di sebelahnya. Penyumbatan pembuluh darah katanya. Harus disuntik obat, tapi tidak hanya itu, harus dilakukan tindakan lanjutan lain kata mereka, dokter angkat tangan dan harus dirujuk di rumah sakit jantung Jakarta karena ketiadaan alat di rumah sakit itu. Dan kami pun segera mengurus segala administrasi pemindahan, pembayaran, dan lainnya. Meski telah selesai, papa masih belum juga diberangkatkan. Sudah dua jam lebih. Tekanan darah papa menurun katanya. Ada obat yang harus diberikan saat itu untuk menaikkan tekanan darah dan menunggu tekanan darah papa stabil. Sedang ambulance sudah stand by sedari tadi.
Sekitar pukul setengah 6 lewat, papa dimasukkan ke dalam ambulance, dan hanya boleh dua orang anggota keluarga yang ikut, aku dan mama kemudian memutuskan untuk ikut. Sedang kaka, saudara, dan mobil akan menyusul. Bersama dengan seorang dokter UGD dan seorang asistennya-kalau tidak salah-, terus memantau papa lewat segala rupa alat-alat yang dipasang. Sedang aku dan mama duduk diam di depan sambil terus mendengarkan alat rekam jantung berbunyi. Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara, mengangis atau apapun. Meski sangat ingin aku menangis tapi aku tidak bisa melakukannya. Tenang, pikirku. Kalau saat itu aku menangis, mama pasti ikutan menangis dan panik. Papa juga pasti ikutan panik. Kualihkan pikiranku pada jalanan yang saat itu macet, pada jam pulang kerja. Dengan sirinenya, ambulance melaju di kiri jalan, meminta jalan pada pengendara kendaraan lain, meski ada beberapa kendaraan yang dengan sangat kejamnya tidak juga memberikan jalan pada kami, kami akhirnya berhasil sampai ke rumah sakit jantung yang dituju.
Papa pun langsung dimasukkan lagi ke ruang UGD. Setelah beberapa saat, dokter-dokter yang memeriksa papa bilang, kalau papa mengalami serangan jantung. Pagi, yang pertama, siang yang kedua, lebih sesak katanya dan bila sampai tiga kali, maka... .Administrasi pun harus segera diurus untuk tindakan operasi yang akan dilakukan,, meski biaya masih bisa ditangguhkan sampai besok, mengingat kami menggunakan asuransi kantor dan waktu juga sudah malam. Mama bilang, untung aku ada di rumah, bila tidak mama pasti panik, dan bingung mengurus segalanya. Kemudian, kami diminta menunggu sebentar untuk persiapan operasinya.
Sekitar pukul 19.00, om datang bersama sepupu. Om yang juga sudah pernah mengalami operasi pasang cincin-bahkan empat sekaligus, diluar negeri tapi- mengatakan segalanya pasti baik-baik saja dan mengajak makan terlebih dahulu, mengingat kami belum makan apapun lagi sedari tadi. Berempat, kami makan di kantin depan ruang UGD. Saat sedang makan supir mobil kantor datang dan bilang kalau operasinya akan segera dilaksanakan. Buru-buru kami meninggalkan makanan, meski baru setengah yang dimakan. Lantai 2, lokasinya. Sedikit terlambat, papa sudah masuk ruang operasi dengan diantar kaka, hanya tinggal menunggu dokter bersiap katanya, dan kami pun diminta menunggu di ruang tunggu operasi. Satu jam-estimasi operasi- yang artinya operasi akan berakhir sekitar pukul sembilan malam.
Layaknya ruang tunggu kebanyakan, ada banyak kursi, yang juga dipenuhi orang-orang yang sedang menunggu operasi sanak saudara mereka berakhir. Kami mengobrol sambil membunuh waktu. Untungnya om dan sepupu datang, mama bilang mungkin kalau om tidak datang untuk mencairkan pikiran mama, mama pasti panik, bingung dan tegang. Satu per satu keluarga pasien yang sudah selesai dioperasi dipanggil. Lama, satu jam katanya, sekitar jam 10 kurang akhirnya kami dipanggil. Alhamdulillah. Operasi berjalan lancar, Papa pun dibawa ke ruang perawatan khusus pasien dengan kondisi cukup berat. ruangan itu muat untuk 6 kasur pasien, dengan dipenuhi berbagai peralatan pemantau pasien, dengan sebuah meja di tengah serta 4 orang perawat yang selalu mengecek keadaan pasien. Tanpa tv, karena memang pasien harus benar-benar bedrest disitu.
Papa kemudian menyuruh aku dan mama untuk segera pulang karna hari sudah malam, sedang kaka tetap di rumah sakit. Menunggu di ruang tunggu pasien, barangkali ada tindakan atau kebutuhan lain papa. Karena ruangan perawatannya intensif, tidak boleh ada penunggu pasien yang menunggu di situ. Ruang tunggu pasien rawat inap, sama halnya dengan ruang tunggu pasien operasi. Ada banyak bangku-bangku berbahan stainless dideret rapi. Bedanya, perlengkapan 'perang' para penunggu sudah lebih canggih. Mulai dari membawa selimut yang dijadikan karpet duduk di lantai, kasur, radio, laptop, hingga roll kabel untuk men-charge puluhan gadget para penunggu. Kondisi yang hampir menyaingi bumi perkemahan-indoor tapi-. Sekitar jam 11-an, kami pun tiba di rumah.
Meski sebenarnya ceritanya tidak berhenti sampai disitu, karena kemudian papa harus menjalani dua kali operasi lanjutan di bulan-bulan berikutnya. Namun tampaknya suatu saat nanti akan kutulisbila sempat. Semoga papa dan mama dipanjangkan umurnya, dan diangkat segala penyakitnya. Amin.
Note: cerita sinteron bohong lho. kalo di film-film kan waktu orangnya sakit, yang ada di sebelahnya waktu di ambulance itu 'tokoh penting' film which is bukan tenaga medis. kenyataannya, kita disuruh duduk di depan tuh.yagilajugakali,tenaga medisnya ga mantengin pasiennya.
catatan lainya, ternyata orang dengan penyakit jantung tidak boleh dikerokin, karena dikhawatirkan akan kena ke pembuluh darah.
Pagi itu, 28 Desember, hari berjalan seperti biasa, mama menyiapkan sarapan dan aku membantu membersihkan lantai. Papa sedang menelpon teman kantornya untuk izin tidak masuk karena masuk angin. aku pun kembali ke dapur. Samar, papa memanggil namaku panggilanku lengkap-biasanya hanya dipanggil 'De' atau nama panggilan di rumah-. Papa masuk angin katanya. Mama kemudian memanggil saudara jauh yang kami pikir mungkin bisa membantu. Dia datang bersama temannya yang katanya jago memijat. Dan papa pun langsung dipijat olehnya, dan sangat merah. kami semua berpikir bahwa papa hanya masuk angin dan kecapekan. kemudian sang saudara menganjurkan untuk meminum air kelapa, mengingat khasiatnya yang bisa menetralkan racun. Namun mama menolaknya karena khawatir papa akan semakin lemas karena efek sampingnya adalah lemas.
Waktu berlalu, papa sedikit membaik setelah makan siang dengan mie instan. Jam 1 siang, papa mengeluh kesakitan. Sang saudara kembali dipanggil untuk sekedar menemani kami. Awalnya, mama mau memanggil dokter tetangga, namun beliau sedang tidak ada. Ucapan papa semakin kacau, wajahnya semakin memerah. Kaka pun segera mencari taksi untuk membawa kami ke rumah sakit-kebetulan mobil sedang dipakai untuk urusan kantor, dan tidak bisa digunakan siang itu-. Lama kami menunggu di ruang tamu. Setengah jam berlalu, kaka pulang tanpa hasil. Kemudian segera pergi kembali untuk mencarinya di tempat berbeda. Alhamdulillah taksi datang selang setengah jam kemudian. Aku, mama, papa, dan sang saudara segera berangkat ke rumah sakit tempat papa biasa check up rutin kesehatannya. Dokternya sudah paham tentang papa, alasannya. Tas berisi pakaian juga sudah dibawa, berjaga-jaga bila harus rawat inap. Taksi berangkat, sedang kaka menyusul kemudian.
Sepanjang perjalanan tidak ada suara, hanya suara tasbih yang berputar yang papa pegang saat itu. Supir taksi yang tampaknya juga paham dengan situasi pun melaju cukup cepat tidak lupa sambil mengingatkan barang bawaan agar tidak ketinggalan pada kami. Seingatku, beliau juga merelakan kembalian receh yang harusnya diberikan, karena situasi kami.
Di depan pintu UGD, papa dipapah dan didudukkan di kursi dorong, segera dibawa ke masuk UGD. Alhamdulillah, dokter langganan papa masih ada di rumah sakit tersebut. Beliau segera berlari menuju UGD. Lama. Setengah jam kalau tidak salah ingat, keluarga pun dipanggil. Papa terlihat membaik dengan tabung oksigen di sebelahnya. Penyumbatan pembuluh darah katanya. Harus disuntik obat, tapi tidak hanya itu, harus dilakukan tindakan lanjutan lain kata mereka, dokter angkat tangan dan harus dirujuk di rumah sakit jantung Jakarta karena ketiadaan alat di rumah sakit itu. Dan kami pun segera mengurus segala administrasi pemindahan, pembayaran, dan lainnya. Meski telah selesai, papa masih belum juga diberangkatkan. Sudah dua jam lebih. Tekanan darah papa menurun katanya. Ada obat yang harus diberikan saat itu untuk menaikkan tekanan darah dan menunggu tekanan darah papa stabil. Sedang ambulance sudah stand by sedari tadi.
Sekitar pukul setengah 6 lewat, papa dimasukkan ke dalam ambulance, dan hanya boleh dua orang anggota keluarga yang ikut, aku dan mama kemudian memutuskan untuk ikut. Sedang kaka, saudara, dan mobil akan menyusul. Bersama dengan seorang dokter UGD dan seorang asistennya-kalau tidak salah-, terus memantau papa lewat segala rupa alat-alat yang dipasang. Sedang aku dan mama duduk diam di depan sambil terus mendengarkan alat rekam jantung berbunyi. Tidak ada satu pun dari kami yang berbicara, mengangis atau apapun. Meski sangat ingin aku menangis tapi aku tidak bisa melakukannya. Tenang, pikirku. Kalau saat itu aku menangis, mama pasti ikutan menangis dan panik. Papa juga pasti ikutan panik. Kualihkan pikiranku pada jalanan yang saat itu macet, pada jam pulang kerja. Dengan sirinenya, ambulance melaju di kiri jalan, meminta jalan pada pengendara kendaraan lain, meski ada beberapa kendaraan yang dengan sangat kejamnya tidak juga memberikan jalan pada kami, kami akhirnya berhasil sampai ke rumah sakit jantung yang dituju.
Papa pun langsung dimasukkan lagi ke ruang UGD. Setelah beberapa saat, dokter-dokter yang memeriksa papa bilang, kalau papa mengalami serangan jantung. Pagi, yang pertama, siang yang kedua, lebih sesak katanya dan bila sampai tiga kali, maka... .Administrasi pun harus segera diurus untuk tindakan operasi yang akan dilakukan,, meski biaya masih bisa ditangguhkan sampai besok, mengingat kami menggunakan asuransi kantor dan waktu juga sudah malam. Mama bilang, untung aku ada di rumah, bila tidak mama pasti panik, dan bingung mengurus segalanya. Kemudian, kami diminta menunggu sebentar untuk persiapan operasinya.
Sekitar pukul 19.00, om datang bersama sepupu. Om yang juga sudah pernah mengalami operasi pasang cincin-bahkan empat sekaligus, diluar negeri tapi- mengatakan segalanya pasti baik-baik saja dan mengajak makan terlebih dahulu, mengingat kami belum makan apapun lagi sedari tadi. Berempat, kami makan di kantin depan ruang UGD. Saat sedang makan supir mobil kantor datang dan bilang kalau operasinya akan segera dilaksanakan. Buru-buru kami meninggalkan makanan, meski baru setengah yang dimakan. Lantai 2, lokasinya. Sedikit terlambat, papa sudah masuk ruang operasi dengan diantar kaka, hanya tinggal menunggu dokter bersiap katanya, dan kami pun diminta menunggu di ruang tunggu operasi. Satu jam-estimasi operasi- yang artinya operasi akan berakhir sekitar pukul sembilan malam.
Layaknya ruang tunggu kebanyakan, ada banyak kursi, yang juga dipenuhi orang-orang yang sedang menunggu operasi sanak saudara mereka berakhir. Kami mengobrol sambil membunuh waktu. Untungnya om dan sepupu datang, mama bilang mungkin kalau om tidak datang untuk mencairkan pikiran mama, mama pasti panik, bingung dan tegang. Satu per satu keluarga pasien yang sudah selesai dioperasi dipanggil. Lama, satu jam katanya, sekitar jam 10 kurang akhirnya kami dipanggil. Alhamdulillah. Operasi berjalan lancar, Papa pun dibawa ke ruang perawatan khusus pasien dengan kondisi cukup berat. ruangan itu muat untuk 6 kasur pasien, dengan dipenuhi berbagai peralatan pemantau pasien, dengan sebuah meja di tengah serta 4 orang perawat yang selalu mengecek keadaan pasien. Tanpa tv, karena memang pasien harus benar-benar bedrest disitu.
Papa kemudian menyuruh aku dan mama untuk segera pulang karna hari sudah malam, sedang kaka tetap di rumah sakit. Menunggu di ruang tunggu pasien, barangkali ada tindakan atau kebutuhan lain papa. Karena ruangan perawatannya intensif, tidak boleh ada penunggu pasien yang menunggu di situ. Ruang tunggu pasien rawat inap, sama halnya dengan ruang tunggu pasien operasi. Ada banyak bangku-bangku berbahan stainless dideret rapi. Bedanya, perlengkapan 'perang' para penunggu sudah lebih canggih. Mulai dari membawa selimut yang dijadikan karpet duduk di lantai, kasur, radio, laptop, hingga roll kabel untuk men-charge puluhan gadget para penunggu. Kondisi yang hampir menyaingi bumi perkemahan-indoor tapi-. Sekitar jam 11-an, kami pun tiba di rumah.
Meski sebenarnya ceritanya tidak berhenti sampai disitu, karena kemudian papa harus menjalani dua kali operasi lanjutan di bulan-bulan berikutnya. Namun tampaknya suatu saat nanti akan kutulis
Note: cerita sinteron bohong lho. kalo di film-film kan waktu orangnya sakit, yang ada di sebelahnya waktu di ambulance itu 'tokoh penting' film which is bukan tenaga medis. kenyataannya, kita disuruh duduk di depan tuh.
catatan lainya, ternyata orang dengan penyakit jantung tidak boleh dikerokin, karena dikhawatirkan akan kena ke pembuluh darah.
Rabu, 26 Desember 2012
"Dear my friends,
thank you for every little time we've spent together, i love youYOU ARE THE BEST!"
LET'S DO OUR BEST FOR FUTURE !
Jumat, 21 Desember 2012
whatever
"Ah, apa sih yang lo harepin?! Kalo emang nggak, ya berarti nggak! Susah amat. Dia-nya juga ga mikirin kok. Don't think too much, it's simple." Kataku pada diriku sendiri.
"Ah whatever. Should i sing AKFG's 'Hold me Thight' ? No, it's better to sing G Dragon's Heartbreaker." Batinku.
Kemudian aku pun mulai bernyanyi "You're my heart-heart-heart-heart-heaaaaart breakeeeer".
"Ah whatever. Should i sing AKFG's 'Hold me Thight' ? No, it's better to sing G Dragon's Heartbreaker." Batinku.
Kemudian aku pun mulai bernyanyi "You're my heart-heart-heart-heart-heaaaaart breakeeeer".
Minggu, 25 November 2012
It's a brand new world!
For you, who will go far away, good luck for us, and i will miss you so bad :*
For you whoever still can't move on...
Yeah, we surely will growing up.. but yeah, we still just can't right now..
Let's move! and definitely, we will meet again :*
sorry, i still can't hyperlinking thw video coz my bad connection, next time i will
Believe - Arashi
For you whoever still can't move on...
Yeah, we surely will growing up.. but yeah, we still just can't right now..
Let's move! and definitely, we will meet again :*
"Waiting, wishing to tell us something. We’ll continue on the endless road. Shouting ourselves hoarse as we. Endlessly chase after that dream. That shines as it shows our future"
Believe - Arashi
It’s a brand new world!
No matter how far we go, we can’t outrun it
Even if time goes on, it won’t go away
Then, how far do we have to struggle along before we realize
The memories of that faraway day?
Even if time goes on, it won’t go away
Then, how far do we have to struggle along before we realize
The memories of that faraway day?
If we look at the sky at dawn
It’s a brand new world
Gazing at the single shining star in our dreams
Because we will take back the dreams we’d lost
Time and time again to each passing day
We don’t need a world of lies and deceit
It’s within our grasp
It’s a brand new world
Gazing at the single shining star in our dreams
Because we will take back the dreams we’d lost
Time and time again to each passing day
We don’t need a world of lies and deceit
It’s within our grasp
That’s right, we’re always waiting
No matter how long it takes, we wait
Because the dream that we’re always hold in our hearts
On the road that goes on forever
Will surely come true
We’ll go on, crying, laughing
No matter how long it takes, we wait
Because the dream that we’re always hold in our hearts
On the road that goes on forever
Will surely come true
We’ll go on, crying, laughing
Unable to reach the end of the night in which we felt
A sudden feeling of loneliness, no matter how long it takes (the end of)
I challenged the sky,
Why do tears fall like this?
A sudden feeling of loneliness, no matter how long it takes (the end of)
I challenged the sky,
Why do tears fall like this?
Pursuing passion all the time
It’s a brand new world
Because we had found the light
In the days that darkened in pain
Shines on a single destination
Thoroughly paving the way
We don’t need a future that taints our pride
It’s within our grasp
It’s a brand new world
Because we had found the light
In the days that darkened in pain
Shines on a single destination
Thoroughly paving the way
We don’t need a future that taints our pride
It’s within our grasp
That’s right, someone is surely waiting
Waiting, wishing to tell us something
We’ll continue on the endless road
Shouting ourselves hoarse as we
Endlessly chase after that dream
That shines as it shows our future
Waiting, wishing to tell us something
We’ll continue on the endless road
Shouting ourselves hoarse as we
Endlessly chase after that dream
That shines as it shows our future
The hope of wanting to be touched by a love that goes on forever
Overflowing in you and I
The love within this heart (The love within this heart)
Each and every one of them (Each and every one of them)
Confirm the meaning why we were born
Overflowing in you and I
The love within this heart (The love within this heart)
Each and every one of them (Each and every one of them)
Confirm the meaning why we were born
We’re always waiting (waiting, waiting)
That’s right, we’re always waiting
No matter how long it takes, we wait
Because the dream we’re always holding in our hearts
On that endless road
Will surely come true
We’ll continue on, crying, laughing.
No matter how long it takes, we wait
Because the dream we’re always holding in our hearts
On that endless road
Will surely come true
We’ll continue on, crying, laughing.
That’s right, someone is surely waiting
Waiting, wishing to tell us something
We’ll continue on that endless road
Shouting ourselves hoarse as we
Endlessly chase after that dream
That shines as it shows our future.
Waiting, wishing to tell us something
We’ll continue on that endless road
Shouting ourselves hoarse as we
Endlessly chase after that dream
That shines as it shows our future.
This is the movement
Looking for my life
I can find myself
It’s a brand new world
This is the movement
Looking for my life
I can find myself
This is the movement.
source
Looking for my life
I can find myself
It’s a brand new world
This is the movement
Looking for my life
I can find myself
This is the movement.
source
Langganan:
Postingan (Atom)




