Rabu, 01 Mei 2013

Time


"Time passes
 People change
 And I feeling left behind"

Minggu, 21 April 2013

Dia, Gw. Kelakuan Emang

"Udah berapa puluh tahun sih, lo hidup sama gw? Masa masih ga ngerti gw sih?"
Ok, itu respon yang sering gw ucapin kalo dia mulai aneh-aneh, dan tanggapan yang bisa gw kasihkalo dia gitu cuma tampang jutek dan kalimat itu. Yah, dari dulu juga gitu sih. Kapan sih lo pernah ngerti gw? Paling dia juga bales, kapan juga lo pernah ngerti gw? Sama aja, emang turunan. Hahaha. 
Gw kangen deh. Waktu dulu ya, sering dianter jemput naik sepeda ke SD. Lks gw ilang juga, gw nangis-nangis ke dia. Dulu. Sekarang mah, boro-boro.  Kalo malem, dia nya kelaperan, ceklek kompor, masak deh. Gw nya mah tinggal nungguin sama si piring, tunggu mateng. Kelakuan emang. Hahaha. Pernah gw ga bisa tidur, terus lari ke tempatnya dia, dielus-elus deh sampe tidur. Dulu, cuy. Dulu. Sekarang mah yang dikelonin ama dia hape, sama hamster. Padahal dulu juga, jaman dia belum berani ditinggal sendirian, berdua sih maksudnya, sama gw. Gw jalan ke pintu dikit aja, dia udah nanya mau ke mana. Dulu, mall masih jarang, ke sananya aja jarang. Kalo ke mall, main deh, petak umpet di rak-rak baju, sampe dicariin sama orang-orang baru keluar. Kelakuan yeuh, kelakuan. Hahaha. Gw masih enak liat-liat barang, yang lain udah jalan, dianya udah nyariin kesana kemari, takut gw nya ilang. Sekali pernah, main ke kantor papa, anak lain mah anteng, diem. Lah ini, kursi kantor yang ada rodanya dimainin. Didorong, meluncur, sepanjang lorong kantor, dari ujung, ke ujungnya lagi. Kelakuan. Untung pas acara kantor yang boleh bawa keluarga. Hahaha, yakali deh. 
Dulu, saking kelamaan barengan kali ya, ampe bosen sama pertanyaan temen-temennya dia ke gw. Dari tk, sd sampe smp. Bosen ga sih lo? Gw sih bosen banget nanggepin pertanyaan takjubnya orang-orang karena kita kaya bumi dan langit. Siapa sih yang ga kenal dia di sekolah? Seantero kenal kali. Yakali. Kalo gw mah, emang kebetulan 'paket' pindah kelasnya bareng anak-anaknya dari sd sampe kelas 3 smp, yang mukanya beda juga cuma beberapa doang. Mau gamau yang nongol ya muka itu lagi, itu lagi. Eh tapi beneran sih, ampe temen-temen gw juga kenal dia lho. Pernah dia jadi pemimpin upacara, temen-temen gw pada ribut. Gwnya mah leyeh-leyeh di uks. Hahaha. Kelakuan. Ehiya, bimbel juga ding. Guru-guru sampe apal, waktu dianya lulus, gw yang ditanyain, dia masuk mana? hemm.. Di bimbel juga gitu, Eh si itu mana? Masuk mana dia sekarang? Ko ga nongol lagi? Suruh main sini. Iye.. iye.. Lain kali ngadain jumpa fans aja kali ya? Berasa bedua terkenal banget dah. Yakali. Sampe segede ini juga slogan, 'lo itunya si itu ya?' masih nempel. Seringnya sih, temennya dia temennya gw juga. Beberapa. Dulu. Pernah juga, gw ketemu sama cewe yg di-'ciee-cieee-in' dari jaman sd sama dia. Si cewe putih cantik banget tetangganya temen gw. Cuma papasan lho, papasan. Dianya langsung ngomong, 'itunya si itu ya?'. Jederrr. Masih ada yang apal. Hahahaha. 
Eh, emang dia ganteng ya? Hahahaa. Yasudahlah, biarkan angin yang menjawab .___.
Pernah juga sih, tahun kemarin gw ga bisa tidur sama sekali saking takutnya sama sesuatu, akhirnya sms dia, curhat dadakan. Dianya mah nyante banget. Bilang, udah, kagak apa-apa. Yeah, emang kelakukannya dia juga sih. nyante. Gwnya panik, dia nya nyante. Yah, segalanya pasti harusnya balance. 
Kalo dipikir-pikir, dari dulu ya, kalo minta diajarin sama tuh orang. Jawabannya cuma dilemparin bukunya. Maksud gw kan minta diajarin face to face. face to face lho, bukan face the book. Pernah, dulu minta diajarin gitar, karna ada tugas sekolah, dan apa yang dia lakukan? Tanpa ba-bi-bu, melemparkan majalah gitarnya ke gw. Diapain? Dimakan. Lumayan, kenyang. Belajar sendiri, liat kode. Mana gw tau ini kode apuaaaa *fliptable*.
Ah, sadarlah saya, dia seperti seekor singa yang menendang anaknya jatuh dari tebing. Supaya, saya bisa bertahan seorang diri dan mengerti kehidupan.
Kalo dipuitisin sih, ya semacam itu. Kalo mau dirasionalin sih, dianya males. Hahahaha.
Makasih ya broh. Gara-gara kelakuan lo, gw jadi ngerti macem-macem.. 
foto kita waktu masih unyu-unyu. editan seadanya.
Itu foto kita lhoo~ waktu masih unyu-unyu gituuu, bareng sama boneka ulil dan susan semoga ketebak yang mana ulil dan yang mana susan. dan karna gw dari dulu pemalu gimana gitu, jadinya gw ngumpet deeh. Katanya dulu kita disangka anak kembar lhoo.. yakali deh :))

Minggu, 14 April 2013

Inikah rasanya?

Rasanya?
Rasanya itu seperti...
Orang yang sudah sangat lama sekali ingin ikut lomba sprint skala besar selama bertahun-tahun tapi bimbang karna satu dan lain hal. Akhirnya setelah perdebatan panjang dan lama, memutuskan untuk mengikuti lomba sprint tersebut. Sekarang dia sudah bersiap di starting point menunggu aba-aba mulai dari juri dan panitia. Tapi tiba-tiba lombanya batal karena panitianya mau nonton konser dangdut. KAMPRING.
yah, sudahlah. makasih lho yaaa..

Selasa, 09 April 2013

Ini Kisahku dengan Dirinya


Hari itu panas terik, awan berarak mengikuti angin yang berhembus. Aku duduk, diam, dan termenung. Tiba-tiba dia datang menghampiri. Duduk, diam dan termenung seperti yang kulakukan. Lama kami diam seribu bahasa. Raut wajahnya menendakan dia paham apa yang ada di benakku. Begitu pula aku, paham apa yang sedang dipikirkannya bila melihatku yang seperti ini. Sebentar-sebentar dia memperhatikan raut wajahku. Sedikit cemas tampaknya.

"Ada apa?" tanyanya basa-basi.
"Tidak ada apa-apa" jawabku asal.
"Kau tahu? Kenapa segalanya menjadi seperti ini?" lanjutku.
"Aku tahu. Dan seharusnya kau tahu apa yang terjadi, bagian mana yang salah, dan bagian mana yang harus kau pahami dan perbaiki" jawabnya panjang. Dan lebar. Seperti biasa. Menyanggah segala pernyataanku dengan nadanya yang khas.
"Hmm" jawabku singkat. Perpaduan antara memikirkan perkataannya dan hapalanku dengan kebiasaannya.
"Perlu kuingatkan lagi? Belum cukupkah selama ini yang berkali-kali kukatakan padamu?" nadanya mulai tinggi, menandakan dia mulai marah. Dalam arti baik tentunya.
"Iya, tapi.." sanggahku.
"Tapi, apa?" potongnya cepat dan tetap dengan nada tinggi.
"Kau juga seharusnya tahu. Kau tahu, itu.. sesuatu yang..hmm.." aku bingung merangkai kata yang tepat untuk menjelaskan padanya, meski percuma. Dia tahu apa yang kupikirkan.
"Hei, aku sudah bersamamu selama lebih dari 17 tahun. Kau pikir aku tak tahu kemana jalan pikiranmu sekarang, hah?" nadanya semakin meninggi. Aku sudah biasa mendengarnya, tapi tetap saja.
"Fokus! Fokus!" lanjutnya setengah berteriak.
Ugh, dia selalu begitu kalau sudah begini.
"Iya, iya, aku tahu apa yang harus kulakukan" balasku pendek.
"Hmm, baiklah. Pasti bisa!" jawabku optimis. Setelah berpikir pendek dan mengumpulkan semangat, meski sebenarnya masih ada keraguan di dalamnya.
"Nah, begitu dong! ujarnya tersenyum.
"Kalau memang tidak bisa, katakan padaku. Aku akan membantumu, menggantikan" lanjutnya lagi, kini dengan nada riang dan senyumnya yang seperti anak kecil.
"Baiklah" ujarku ringan.
Obrolan kami pun kemudian berlanjut pada obrolan-obrolan ringan, seperti kenapa roda itu bulat, harumnya 'hujan pertama' dan perdebatan tidak penting lainnya.

Semua orang bilang, kami berdua aneh. Tapi kami tidak peduli apa yang orang lain katakan. Toh, kami sudah saling mengenal dan bersama sejak lama.

"Mungkin, sudah saatnya kita berpisah" ujarnya mengingatkan, menyadarkanku dari lamunan.
Ah, benar. Sudah waktunya rupanya. Aku mengikat dan merapikan kembali rambutku yang semula berantakan. Dia pun demikian.
"Baiklah, sampai jumpa" ujarku lembut sambil menyentuh tangannya.
Tapi tangan kami tidak sampai bersentuhan.
"Ah cermin ini" ujarnya kesal. Tinjunya melayang lembut ke arah cermin di depan kami. Aku menatap cermin itu. Di sanalah ia berada, dalam pantulan cermin, pantulan yang serupa denganku. Ah iya, itu aku.

"Hahaha, sudahlah" tawanya renyah.
"Tidurlah" timpalku ringan.

Kami pun sama-sama berbalik, memalingkan badan masing-masing. Aku dengan hidupku, sedang ia dengan tidurnya. Lagi. Hingga saat kami akan bertemu seperti saat ini lagi, atau ketika ia datang dan menggantikanku. Lagi.

ps : akhirnya tertulis juga :) *memandang langit malam*



Yes, you are..


Senin, 08 April 2013

Kutitipkan Salam Padamu yang di Sana


Hai!
Apakabar? Sudah lama tidak ada kabar darimu. Apakah suratku sudah sampai dengan selamat di tempatmu? Kuharap tidak, dan kurasa juga tidak. Karena surat itu memang urung kuberikan padamu. Meski beberapa kepingan sudah kukirimkan. Namun, untuk kesekian kalinya niatan ku gagal. Jahatkah aku? Karena mengabaikanmu. Jahatkah kamu? Karena mengabaikanku. Maaf, aku hanya ingin menyukaimu secara sederhana. Sesederhana ketika pertama kali kita berbicara. Tidak serumit ketika kita bertemu setelah sekian lama, dan aku hanya menyakitimu. Maaf. Dan kini, segalanya berakhir. Berakhir? Ya, bila takdir berkata demikian. Toh setelah segalanya tenang, kita bisa mengobrol santai seperti dulu lagi. Semoga.